Working Mother- Edisi Masak

Menjadi ibu bekerja ternyata tak semudah yang dibayangkan. Walaupun aku bekerja tak jauh dari rumah (kurang lebih hanya 5 menit perjalanan), tetapi saja aku cukup kewalahan dengan peran baruku ini.

Aku bekerja sebagai seorang peneliti di sebuah lembaga yang berada dibawah naungan fakultas Psikologi UI. Pekerjaku cukup fleksibel sebenarnya. Aku tidak dituntut untuk memenuhi syarat 8 jam kerja sehari (kalau tidak tidak mendapatkan uang transportasi atau uang makan). Aku bisa berangkat kerja pukul 9 teng, saat jam istirahat siang bisa pulang kerumah, kembali bekerja pukul satu, dan sudah tiba dirumah jam 5 sore. Bagi ibu-ibu bekerja yang menuntut diluar rumah minimal 12 jam dalam sehari, tentu iri dengan pekerjaanku ini.
Namun demikian, aku cukup mendapatkan tantangan untuk membagi peranku sebagai istri dan ibu, terutama soal masak memasak. Saat bangun tidur aku bermain dulu dengan Matahatiku tercinta, yang selalu membangunkan di pagi hari (hihihi. Anakku ini memang suka bangun subuh). Waktu ini aku manfaatkan semaksimal mungkin karena pagi hari adalah waktu paling tepat untuk kami bermain bersama. Saat istirahat siang, aku hanya punya waktu sebentar, saat aku pulang kerja, biasanya anakku sudah mulai ngantuk dan ingin segera di nina bobokkan.

Setelah itu, aku harus mengasapkan dapur dalam artian sebenarnya. Tak banyak memang orang yang akan diberi makan dirumah, tapi aku berkeinginan untuk selalu menghidangkan masakanku dirumah selagi aku bisa memasak sendiri. Walaupun harus berhujan-hujanan ke warung untuk belanja atau sekali-sekali harus berjauh-jauhan dan berbecek-becekan ke pasar tradisional tak masalah bagiku. Yang penting, aku memberi makanan yang aku buat sendiri untuk keluargaku. Masakan yang dimasak sendiri dirumah selain hemat, juga memiliki jaminan kebersihan dan kesehatan yang jauh lebih tinggi daripada di luaran rumah.

Tak selamanya mendung itu kelabu, tak selamanya jerih payah itu berbuah madu. Sudah capek bersilat di dapur, belum tentu mendapatkan imbalan yang setimpal. Syukur alhamdulillah saat suami melahap semua makanan sambil berucap “Mantap”, atau paling tidak berucap “Mantap” tapi masih banyak yang bersisa (ini berarati makanan tak terlalu enak, tapi berusaha untuk menjalankan sunnah nabi (baca: menyenangkan hati istri)), yang sangat menyedihkan kalbu adalah saat apa yang kita perjuangkan di dapur tidak disentuh sama sekali. Huhuhuhuu, sediiiiiiih banget. Sudah capek-capek menyiapkan makanan, berkejaran dengan waktu, mengorbankan waktu bermain dengan anak, tapi tidak di apresiasi. Itu sempat terjadi beberapa kali dengan berbagai alasan, seperti terburu-buru, belum lapar (berarti tidak enak, kalo enakkan kenyangpun pasti dilahap), nanti saja, pengen disuapin (padahal tau aku lagi sibuk), dan lain-lain. Yaaah, walaupun begitu aku tetap saja memasak setiap hari (sempat ngambek juga si ga masak beberapa hari). Aku tak akan kalah dengan ketiadaan imbalan. Aku akan terus memasak karena aku ingin suami dan terutama anakku merindukan rumah karena rindu dengan masakan istri dan ibunya.




Read More......

Aku Ingin Seperti Ibuku

Aku ingin seperti ibu ku

Aku ingin seperti ibu ku
Dia bekerja setiap waktu
Dia memasak untuk keluarganya setiap hari
Dia menemani anaknya belajar setiap malam
Dia mengantarkan anaknya berkompetisi di setiap ajang
Dia bersabar setiap anaknya membangkang
Dia diam setiap suaminya mengeluhkan ketidaksempurnaannya
Dia ingat anak-anaknya pada setiap langkahnya
Dia ingat pada Tuhan akan kelemahannya sebagai manusia di setiap malam

Aku ingin seperti ibuku
Aku ingin anak-anakku ingin menjadi seperti aku.

Alif 9.10pm
Teruntuk Ibuku di negeri sebarang yang sangat merindukan gelak canda anak-anaknya di malam Idul Adha ini.
Ibu, Aku ingin seperti dirimu.

Read More......





Read More......

Copyright © 2008 - Sabda Sang Jiwa - is proudly powered by Blogger
Blogger Template